Terus memangkas

TERUS MEMANGKAS

Bacaan: Lukas 12:35-48
NATS: Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan dat (Lukas 12:37)

Sekalipun saya tahu besok dunia akan hancur berkeping-keping, saya akan tetap menanam pohon apel kecil saya dan melunasi utang saya,” kata Martin Luther.

St. Francis dari Assisi ternyata juga memiliki sikap serupa. Ia sedang memangkas tanaman di kebunnya ketika seseorang bertanya, apa yang akan dilakukannya seandainya ia tahu bahwa nanti sore ia akan meninggal. Ia menjawab, “Saya akan terus memangkas kebun sampai selesai.”

Terus terang saya heran menyimak sikap mereka. Terasa kurang “pas” bagi tokoh sekaliber mereka. Terasa begitu sederhana jawaban yang diberikan. Namun, justru dari kesederhanaan itulah muncul pelajaran sangat berharga tentang kesetiaan.

Bagi Luther dan St. Francis, rutinitas sehari-hari adalah tugas ilahi. Tugas yang sakral. Perhatian mereka tidak ditujukan terutama pada apa yang mereka kerjakan. Hal yang tampak remeh seperti mengurus tanaman pun bernilai, sehingga mereka akan tetap setia melakukannya sampai mati. Mengapa? Mereka mempertimbangkan untuk siapa mereka melakukannya. Mereka memandang diri mereka sebagai hamba Tuhan, maka mereka melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia.

Apa dampaknya bila kita juga bersikap demikian? Pekerjaan sehari-hari — mulai dari mengganti popok bayi, mengajar murid, melayani pelanggan, sampai memimpin negara — semuanya menjadi aktivitas yang signifikan dan patut dilakukan dengan setia. Dan, jika kita melakukannya bagi Tuhan, bukankah kita tidak akan melakukannya dengan asal-asalan? –ARS

KESETIAAN TERHADAP TUGAS SEHARI-HARI SEPATUTNYA
MENJADI UNGKAPAN KESETIAAN TERHADAP TUHAN

HATI SEORANG HAMBA

Bacaan: 2Timotius 2:19-26
NATS: … sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus pandai mengajar, sabar (2Timotius 2:24)

George Washington Carver adalah seorang ilmuwan Afrika-Amerika yang mengembangkan sejumlah produk dari kacang tanah. Dr. Carver juga adalah seorang hamba Allah yang rendah hati, yang memakai setiap kesempatan untuk berbicara kepada orang lain tentang Juru Selamat yang ia kasihi dan layani.

Pada tahun 1920-an, para anggota YMCA dan Komisi Kerjasama Antarras meminta Carver untuk berbicara secara resmi di hadapan para mahasiswa kulit putih di perguruan tinggi dan universitas di daerah Selatan. Carver berbicara tentang keajaiban-keajaiban dunia yang natural dan Allah Maha Pengasih yang menciptakan bumi serta semua orang.

Carver menyatakan bahwa tujuan dari pertemuan-pertemuan ini adalah ia ingin para mahasiswa itu menemukan Yesus dan menjadikan-Nya bagian dari hidup mereka setiap hari, setiap jam, dan waktu demi waktu. “Saya ingin mereka melihat Sang Pencipta melalui benda-benda yang paling kecil dan tampak paling tidak berarti di sekitar mereka.”

Dr. Carver berusaha mengikuti perkataan Paulus kepada seorang pendeta muda: “… sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus pandai mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” (2Timotius 2:24,25). Pendekatan itu menekankan kuasa injil dan daya tarik yang memenangkan orang dari hati seorang hamba.

Marilah kita mengikuti teladan Carver –DCM

BERSAKSI BUKAN SEKADAR PEKERJAAN YANG HARUS DILAKUKAN
MELAINKAN SUATU KEHIDUPAN YANG HARUS DIJALANI

GEMBALA HIDUP KITA

Bacaan: Mazmur 23
NATS: Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Mazmur 23:4)

Sadar atau tidak, setiap orang mempunyai gembala dalam hidupnya. “Gembala” dalam arti sesuatu yang menggerakkan, memotivasi, mengarahkan, dan memengaruhi pola pikir, prioritas, perilaku, dan keputusan-keputusan dalam hidup seseorang. Gembala itu bisa berwujud uang, jabatan, popularitas, tokoh yang dikagumi, bisa juga akar pahit atau pengalaman traumatis di masa lalu.

Sesungguhnya, hal-hal tersebut bukanlah gembala yang baik. Sebaliknya malah akan menjerumuskan dan mencelakakan; baik diri sendiri maupun orang lain. Tidak sedikit tragedi di dunia ini yang dipicu dan dipacu orang-orang yang hidupnya dikendalikan oleh uang atau jabatan, misalnya.

Gembala yang baik adalah Tuhan sendiri. Ini yang dialami dan dihayati oleh Daud. Daud sungguh-sungguh merasakan Tuhan membimbing, menuntun, dan memeliharanya. Ia memang tidak selalu bergelimang kesuksesan. Ia pun kerap hidup dalam kesulitan; pernah dibenci setengah mati dan dikejar-kejar oleh Saul (1Samuel 19), pernah dikudeta oleh Absalom, anaknya, dan terlunta melarikan diri (2Samuel 15). Namun, Daud merasakan betapa Tuhan tidak pernah jauh darinya. Pun dalam saat-saat tergelap hidupnya, saat-saat kritis. Tuhan mencukupkan segala kebutuhannya. Tuhan membimbingnya ke jalan yang benar. Tuhan menyegarkan jiwanya. Ia sungguh merasakan jejak-jejak kasih dan pemeliharaan Tuhan dalam setiap jengkal hidupnya.

Bagaimana dengan kita? Pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah; apakah Tuhan sudah menjadi gembala dalam hidup kita, sebagai prioritas dan dasar dari segala tindakan kita? –AYA

JIKA TUHAN YANG MENJADI GEMBALA HIDUP KITA
JALAN CURAM DAN BERLIKU PUN TAK PERLU KITA TAKUTKAN

“GETAR” TUHAN

“GETAR” TUHAN

Bacaan: Lukas 5:1-11
NATS: Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” (Lukas 5:8)

Pernah tersetrum listrik? Bagaimana rasanya? Maukah Anda mengulangi? Tidak bukan? Itu wajar. Namun, bagaimana bila yang Anda alami adalah “tersetrum” Tuhan?

Seusai mengajar dari atas perahu, Yesus menyuruh Simon bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menangkap ikan. Seketika nelayan kawakan ini memprotes, tetapi akhirnya ia patuh. Hasilnya? Mukjizat. Perahunya penuh ikan hingga hampir tenggelam. Lalu ada satu hal menarik yang terjadi dalam diri Simon. Ia menyadari ketidaklayakannya untuk mengalami rahmat itu.

Mengalami mukjizat justru membuat Simon mengakui keadaannya sebagai orang berdosa. Biasanya jika seseorang mengalami mukjizat, ia merasa senang bahkan sangat bangga. Namun, Simon justru gentar. Pengalaman dengan Yesus sungguh membuatnya terpesona sekaligus takut. Katanya, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” (ayat 8). Pergikah Yesus? Tidak. Yesus justru mengundang Simon untuk lebih dekat kepada-Nya. Bahkan sangat dekat. Yesus ingin mengubahkan Simon — yang menyadari bahwa dirinya tidak layak — menjadi Petrus yang akan “menjala” manusia-manusia lain dengan “jala” rahmat Tuhan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda pernah tergetar karena karya Tuhan? Mungkin pernah, bahkan sering. Permasalahannya, apa yang menjadi buah dari getaran itu? Rasa bangga dan pongah rohani sembari membanding-bandingkannya dengan pengalaman orang lain? Atau, justru sebaliknya: kerendahan hati yang menebarkan rahmat Tuhan bagi semua orang? Mari temukan mana yang sepantasnya kita rayakan –DKL

AMBILLAH WAKTU UNTUK MENEMUKAN RASA DAMAI,
DAYA ILAHI, DAN RASA CINTA — Phil Bosman

APAKAH ANDA MERDEKA?

APAKAH ANDA MERDEKA?

Bacaan: Galatia 4:21-31
NATS: Kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka (Galatia 4:31)

Kizzy Kinte kurang beruntung. Putri dari Kunta Kinte di dalam buku puisi kepahlawanan Roots karangan Alex Haley ini ingin melepaskan diri dari ikatan perbudakan dan hidup bebas, seperti yang telah dilakukan oleh nenek moyangnya di Afrika. Namun ia tidak bisa melakukannya. Karena lahir dari seorang budak wanita, Bell Kinte, pada zaman perbudakan yang mengerikan itu, ia pun hidup sebagai seorang budak.

Silsilah Kizzy yang mana ia tidak memiliki kendali atas hal itu menentukan nasibnya.

Cerita itu hampir mirip dengan Galatia 4:31, di mana Paulus menggunakan analogi dari sebuah cerita Perjanjian Lama untuk menolong kita memahami tentang perbudakan dan kemerdekaan. Dengan menyebut cerita tentang Abraham, Sara, dan Hagar, Paulus menjelaskan perbedaan antara anak seorang hamba perempuan (Hagar) dan anak seorang perempuan merdeka (Sara). Hanya anak dari perempuan merdekalah yang dapat menikmati warisan; anak yang lain ditakdirkan untuk menjadi budak.

Inilah intinya: kita masing-masing pria atau wanita, Yahudi atau bukan Yahudi, hitam atau putih, kaya atau miskin dapat turut ambil bagian dalam warisan Allah. Setiap orang yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat menjadi “bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka” (ayat 31). Kita dibebaskan dari perbudakan hukum Taurat Allah dan sebaliknya ditawari anugerah Allah. Dan warisan kita adalah kemerdekaan-kemerdekaan mutlak di dalam Kristus.

Sudahkah anugerah Allah memerdekakan Anda? –JDB

KITA DAPAT MEMPEROLEH KEMERDEKAAN SEJATI
DENGAN MENJADI HAMBA KRISTUS

PENTINGNYA BERTERIMA KASIH

Bacaan: Lukas 17:11-19
NATS: Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring (Lukas 17:15)

Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem ketika sepuluh orang kusta mendekati Dia. Sambil berdiri jauh-jauh, sebagaimana yang seharusnya dilakukan penderita kusta, mereka berseru kepada-Nya: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (Lukas 17:13).

Ketika Yesus melihat mereka, Dia memberikan perintah, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan dalam perjalanan, mereka sembuh.

Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali, tersungkur di kaki Yesus, dan bersyukur kepada-Nya. “Di manakah yang sembilan orang itu?” tanya Yesus. Pertanyaan yang bagus.

Yesus menunjuk pria yang penuh ucapan syukur itu sebagai seorang Samaria orang luar mungkin untuk menekankan perkataan-Nya bahwa “anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang” (16:8). Kata “cerdik” dalam bahasa aslinya berarti “penuh perhatian”. Kadang kala orang-orang dunia memiliki tata krama yang lebih baik daripada para pengikut Yesus.

Dalam kesibukan hidup, kita mungkin lupa untuk mengucapkan terima kasih. Seseorang telah melakukan sesuatu bagi kita memberi hadiah, melakukan suatu tugas, menyampaikan khotbah yang tepat, memberikan perkataan nasihat atau penghiburan. Namun, kita lalai untuk berterima kasih.

Apakah ada seseorang yang telah melakukan sesuatu untuk Anda minggu ini? Teleponlah teman Anda itu atau kirimkan sebuah kartu ucapan terima kasih. Lagi pula, kasih “tidak melakukan yang tidak sopan” (1Korintus 13:5) –DHR

KITA TIDAK MEMBUTUHKAN LEBIH BANYAK HAL
UNTUK DAPAT BERTERIMA KASIH
KITA HANYA PERLU LEBIH BERTERIMA KASIH

Perpustakaan yanghilang

PERPUSTAKAAN YANG HILANG

Bacaan: Yesaya 40:6-8
NATS: Rumput menjadi kering, … tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya (Yesaya 40:8)

Bagian yang paling saya senangi di perpustakaan adalah sejarah dan majalah. Bagaimana dengan Anda? Bayangkanlah jika pada suatu Sabtu pagi Anda datang ke perpustakaan, tetapi hanya menemukan bahwa buku-buku favorit Anda telah menjadi tumpukan abu.

Berabad-abad yang lalu, hal itulah yang terjadi ketika ribuan buku di Perpustakaan Alexandria dilanda kebakaran. Pada zaman kuno, Alexandria merupakan tempat untuk melakukan penelitian. Lalu pada hari yang membawa bencana di tahun 47 SM, Julius Caesar membakar kapal-kapalnya di pelabuhan Alexandria agar tidak jatuh ke tangan musuh. Api itu segera menyebar ke dok dan gudang senjata angkatan laut, dan akhirnya menghancurkan 400.000 gulungan tulisan yang berharga di dalam perpustakaan.

Tragedi semacam itu menunjukkan betapa mudahnya materi-materi tertulis itu rusak. Kenyataan ini membuat kelangsungan Alkitab kita sebagai suatu mukjizat. Firman Allah telah melalui berbagai peristiwa pembakaran, kerusuhan, revolusi, penganiayaan, dan bencana. Namun, para ahli teologi berkata bahwa naskah-naskah itu telah terpelihara dengan akurat setelah diperbanyak selama ribuan tahun.

Allah mengilhamkan penulisan Kitab Suci (2Timotius 3:16) dan telah berjanji untuk memeliharanya sepanjang abad (Yesaya 40:8). Pada kesempatan berikutnya saat Anda membuka Alkitab, luangkanlah waktu untuk merenungkan betapa berharganya Alkitab itu, dan bersyukurlah kepada Allah yang telah menjaganya tetap aman bagi Anda –HDF

BUKU-BUKU TERLARIS DATANG DAN PERGI
NAMUN FIRMAN ALLAH TETAP TINGGAL UNTUK SELAMA-LAMANYA